Minggu, 25 September 2011
Sayyidah Nafisah Guru Imam Syafi’i Sayyidah Nafisah adalah
putri Hasan al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathimah
az-Zahra', putri Rasululullah Saw. Sayyidah Nafisah dilahirkan di Mekah
al-Mukarramah, 11 Rabiul awal 145 H. Pada tahun 150 H, Hasan menjabat
sebagai Gubernur Madinah dan ia membawa Sayyidah Nafisah yang baru
berusia lima tahun ke Madinah. Di sana Sayyidah Nafisah menghafal
Al-Qur'an, mempelajari tafsirnya dan senantiasa menziarahi makam
datuknya, Rasulullah Saw. Sayyidah Nafisah terkenal zuhud, berpuasa di
siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajud dan beribadah
kepada Allah SWT. Sayyidah Nafisah mulai umur enam tahun selalu
menunaikan salat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di
Masjid Nabawi. Sayyidah Nafisah menikah dengan putra pamannya, Ishaq
al-Mu'tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H.
Umur Sayyidah Nafisah ketika itu 16 tahun. Ia dikaruniai seorang putra
bernama al-Qasim dan seorang putri bernama Ummu Kultsum. Sayyidah
Nafisah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga puluh kali, sebagian besar
ia lakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan karena
meneladani datuknya, Imam Husain yang pernah mengatakan, "Sesungguhnya
aku malu kepada Tuhanku jika aku menjumpai-Nya di rumah-Nya dengan
tidak berjalan kaki." Riwayat-riwayat tentang Sayyidah Nafisah
kebanyakan dinisbahkan kepada putri saudaranya, Zainab binti Yahya
al-Mutawwaj, yang selalu menyertai dan menemaninya sepanjang hidupnya,
serta tidak mau menikah karena ingin selalu melayani dan
menyenangkannya. Zainab binti Yahya, saat berbicara tentang Sayyidah
Nafisah, mengatakan, "Bibiku hafal Al Qur'an dan menafsirkannya, ia
membaca Al Qur'an dengan menangis sambil berdo’a, 'Tuhanku, Mudahkanlah
untukku berziarah ke tempat Nabi lbrahim as." Sayyidah Nafisah tahu
bahwa Nabi Ibrahim adalah datuk para nabi, jadi datuk dari ayahnya
juga, Muhammad Saw. Dan Rasulullah Saw mengatakan, "Akulah yang
dimaksud dalam do’a Ibrahim as ketika berdo’a, “Ya Tuhan kami, utuslah
kepada mereka seorang rasul di antara mereka yang akan membacakan
ayat-ayat Mu kepada mereka dan akan mengajarkan kitab dan hikmah kepada
mereka serta akan membersihkan mereka; sesungguhnya Engkau Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah: 129) Hijrah ke Mesir Ketika Sayyidah
Nafisah menziarahi makam Nabi Ibrahim as, ia ingin menangis. Lalu ia
duduk dengan khusyuk membaca Al-Qur'an surat Ibrahim: 35-37. Hari
Penyambutan di Kota al-Arisy Ketika Sayyidah Nafisah datang ke Mesir,
usianya 48 tahun. Ia tiba pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Sewaktu
orang-orang Mesir mengetahui kabar kedatangannya, mereka pun berangkat
untuk menyambutnya di kota al-Arisy, lalu bersama-sama dengannya
memasuki Mesir. Sayyidah Nafisah ditampung oleh seorang pedagang besar
Mesir yang bernama Jamaluddin 'Abdullah al Jashshash, di rumah ini
Sayyidah Nafisah tinggal selama beberapa bulan. Penduduk Mesir dari
berbagai pelosok negeri berdatangan ke tempatnya untuk mengunjungi dan
mengambil berkah darinya. Nafisah khawatir, hal itu akan menyulitkan
pemilik rumah. la pun meminta izin untuk pindah ke rumah yang lain. la
kemudian memilih sebuah rumah yang khusus untuknya di sebuah kampung di
belakang Mesjid Syajarah ad-Durr di jalan al-Khalifah. Kampung itu
sekarang dikenal dengan nama al-Hasaniyyah. Penduduk Mesir yang telah
mengetahui rumah baru yang ditempati oleh Sayyidah Nafisah, segera
mendatanginya. Nafisah merasa dengan banyaknya orang yang
mengunjunginya, benar-benar menyulitkannya untuk beribadah. Ia berpikir
untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Orang-orang mengetahui
rencana Nafisah untuk meninggalkan Mesir. Mereka segera kepenguasa
Mesir, as-Sirri bin al-Hakam, dan memintanya agar meminta Sayyidah
Nafisah untuk tetap tinggal di Mesir. As-Sirri bin al-Hakam kemudian
mendatangi Sayyidah Nafisah. Kepada as-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata,
Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini
seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat
banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan
mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk
orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah
datukku, Rasulullah Saw." Maka as-Sirri menanggapinya, "Wahai putri
Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan
dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku
memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada
Allah bahwa aku memberikan itu kepadamu. Aku harap engkau mau
menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya." Setelah lama
terdiam, Sayyidah Nafisah berkata, 'Ya, saya menerimanya." Kemudian ia
Mengatakan, Wahai Sirri, apa yang dapat aku perbuat terhadap jumlah
orang yang banyak dan rombongan yang terus berdatangan? “Engkau dapat
membuat kesepakatan dengan mereka bahwa waktu untuk pengunjung adalah
dua hari dalam seminggu. Sedangkan hari-hari lain dapat engkau
pergunakan untuk ibadahmu, jadikanlah hari Rabu dan Sabtu untuk
mereka," kata as-Sirri lagi. Sayyidah Nafisah menerima tawaran itu. Ia
pun pindah ke rumah yang telah diberikan untuknya dan mengkhususkan
waktu untuk kunjungan pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu. Seorang Guru bagi para ulama Sufi, Fuqoha dan Muhadistin.
Perjumpaan Imam Syafi’i Ra dengan Sayyidah Nafisah Di rumah ini,
Sayyidah Nafisah dikunjungi oleh banyak fuqaha, tokoh-tokoh tasawuf,
dan orang-orang saleh. Di antara mereka adalah Imam Syafi’i, Imam
'Utsman bin Sa’id al-Mishri, Dzun Nun al-Mishri, Al Mishri
as-Samarqandi, Imam Abubakar al-Adfawi dan banyak ulama lain. Imam
Syafi’i datang ke Mesir pada tahun 198 H, lima tahun setelah kedatangan
Sayyidah Nafisah. Imam syafi’i tinggal di Mesir lebih dari empat tahun.
Di sana ia mengarang kitab-kitabnya. Namanya menjadi terkenal karena
orang-orang menerima dan mencintainya, dan tersebarlah mazhabnya di
tengah-tengah mereka. Di Mesir ia menyusun pendapat mazhabnya yang baru
(qaul jadid), yang disusunnya karena adanya perubahan kondisi dan
kebiasaan. Hal itu dimuat dalam kitabnya al-Umm. Ketika Imam Syafi’i
datang ke Mesir, ia telah menjalin hubungan dengan Sayyidah Nafisah.
Hubungan keduanya diikat oleh keinginan untuk berkhidmat kepada akidah
Islam. Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah bersama beberapa
orang muridnya ketika berangkat menuju halaqah-halaqah pelajarannya di
sebuah masjid di Fusthath, yaitu Mesjid 'Amr bin al-'Ash. Imam Syafi’i
biasa melakukan salat Tarawih dengan Sayyidah Nafisah di mesjid
Sayyidah Nafisah. Walaupun Imam Syafi'i memiliki kedudukan yang agung,
tetapi jika ia pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia meminta do’a kepada
Nafisah dan mengharap berkahnya. Imam Syafi'i juga mendengarkan hadist
darinya. Bila sakit, Imam Syafi’i mengutus muridnya sebagai
penggantinya. Utusan itu menyampaikan salam Imam Syafi'i dan berkata
kepada Sayyidah Nafisah, "Sesungguhnya putra pamanmu, Syafi'i, sedang
sakit dan meminta doa kepadamu." Sayyidah Nafisah lalu mengangkat
tangannya ke langit dan mendoakan kesembuhan untuknya. Maka ketika
utusan itu kembali, Imam Syafi’i telah sembuh. Suatu hari, Imam Syafi’i
menderita sakit. Seperti biasanya, ia mengirim utusan untuk memintakan
doa dari Sayyidah Nafisah baginya. Tetapi kali ini Sayidah Nafisah
berkata kepada utusan itu, "Allah membaguskan perjumpaan-Nya dengannya
dan memberinya nikmat dapat memandang wajah-Nya yang mulia." Ketika
utusan itu kembali dan mengabarkan apa yang dikatakan Sayyidah Nafisah,
Imam Syafi’i tahu bahwa saat perjumpaan dengan Tuhannya telah dekat.
Imam Syafi’i berwasiat agar Sayyidah Nafisah mau menyalatkan jenazahnya
bila ia wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat pada akhir Rajab tahun 204 H,
Sayyidah Nafisah melaksanakan wasiatnya. Jenazah Imam Syafi’i dibawa
dari rumahnya di kota Fusthath ke rumah Sayyidah Nafisah, dan di situ
ia menyalatkannya. Yang menjadi Imam adalah Abu Ya'qub al Buwaithi,
salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Kepergian Seorang Waliyah Sayyidah Nafisah
terkenal sebagai seorang yang zuhud, dan suka beribadah sepanjang
hayatnya. Zainab, kemenakan Sayyidah Nafisah, pernah ditanya,
"Bagaimana kekuatan bibimu?" Ia menjawab, Ia makan sekali dalam tiga
hari. Ia memiliki keranjang yang digantungkan di depan musalanya.
Setiap kali ia meminta sesuatu untuk dimakannya, ia dapatkan di
keranjang itu. Ia tidak mau mengambil sesuatu selain milik suaminya dan
apa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya." Salah seorang penguasa pernah
memberikan seratus ribu dirham kepadanya dengan mengatakan, "Ambillah
harta ini sebagai tanda syukur saya kepada Allah karena saya telah
bertobat". Nafisah mengambil uang itu kemudian membagi-bagikannya
kepada fakir miskin, orang jompo dan orang yang membutuhkannya sampai
habis. Menggali Kuburnya dengan tangannya sendiri Ketika Sayyidah
Nafisah merasa ajalnya telah dekat, ia mulai menggali kuburnya sendiri.
Kubur itu berada di dalam rumahnya. Ia turun ke dalamnya untuk
memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat. Al-Allamah al-Ajhuri
mengatakan, Nafisah mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kubur yang telah
digalinya sebanyak enam ribu kali dan menghadiahkan pahalanya untuk
kaum Muslimin yang telah wafat. Ketika sakit, ia menulis surat kepada
suaminya, Ishaq al Mu'tamin, yang sedang berada di Madinah dan
memintanya datang. Suaminya pun datang bersama kedua anak mereka,
al-Qasim dan Ummu Kultsum. Pada pertengahan pertama bulan Ramadan 208
H, sakitnya bertambah parah, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa.
Orang-orang menyarankannya untuk berbuka demi menjaga kekuatan dan
mengatasi sakit yang dideritanya. Ia pun menjawab, "Sungguh aneh!
Selama tiga puluh tahun aku meminta kepada Allah agar Ia mewafatkan aku
dalam keadaan berpuasa. Maka bagaimana mungkin aku berbuka sekarang?
Aku berlindung kepada Allah. Hal itu tidak boleh terjadi selamanya".
Kemudian ia membaca surah al-An'am. Ketika sampai pada ayat, "Untuk
mereka itu kampung keselamatan (surga) di sisi Tuhan mereka. Dia
penolong mereka berkat amalan yang mereka perbuat," (QS. al-An'am: 127)
Nafisah lalu mengucapkan kalimat syahadat, dan naiklah rohnya
keharibaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berjumpa dengan para nabi,
shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Sebelumnya Nafisah berwasiat kepada
suaminya untuk memindahkan jasadnya yang suci dalam peti ke Madinah
untuk dimakamkan di sana bersama keluarganya di Baqi'. Namun, penduduk
Mesir menentangnya dan menginginkan agar ia dimakamkan di kubur yang
telah digalinya dengan tangannya sendiri. Penduduk Mesir mengumpulkan
harta yang banyak, lalu menyerahkannya kepada suami Sayyidah Nafisah
seraya meminta agar jenazahnya tetap berada di Mesir. Namun suaminya
enggan menerima permintaan itu. Malam itu pun mereka lewati dalam
keadaan menderita, padahal mereka orang-orang terkemuka. Mereka
tinggalkan harta mereka di tempat Sayyidah Nafisah. Ketika pagi, mereka
mendatanginya lagi. Akhirnya suami Sayyidah Nafisah memenuhi pemintaan
mereka untuk memakamkan istrinya di tempat mereka, namun ia
mengembalikan harta mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang hal itu.
Ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpi. Beliau berkata
kepadaku, Wahai Ishaq, kembalikan kepada mereka harta mereka dan
makamkanlah ia di tempat mereka."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar